Name :
Loisa, S.KH
Sex :
Female
Place, date of birth :
Bekasi, July 1st 1989
Nationality :
Indonesian
Campuss :
Bogor Agricultural University (IPB)
Permanent address :
Cibeber street no. 02, RT/RW. 03/04, Kec. North Cikarang, Kab. Bekasi, West Java 17550
Address in Bogor
Lapriesta’s boarding house Km 10, Babakan Leuwikopo Dramaga Bogor, West Java
Mobile phone :
+62812 855 1669/+6251 955 1030
E-mail :
loisa_imut@yahoo.com
Konsep Kesejahteraan Hewan Penting Bagi Hewan, Manusia, dan Lingkungan dan Solusi Untuk Mensosialisakan Kesejahteraan Hewan di Indonesia
Hewan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang harus dijaga, dilestarikan, dan diperhatikan kehidupannya oleh manusia. Keberadaan hewan di sekitar manusia memiliki berbagai manfaat bagi hewan itu sendiri, hewan lain, manusia, dan lingkungan. Pemanfaatan hewan oleh manusia harus dilakukan secara wajar dan tetap tidak mengabaikan kesejahteraan hidup hewan tersebut. Bidang yang saya pelajari saat ini lebih menuntun dan mengajarkan hal baik dengan lebih menyayangi dan memperlakukan hewan sebagaimana mestinya.
Konsep animal welfare atau kesejahteraan hewan merupakan aspek penting bagi manusia yang sering memanfaatkan hewan dalam kehidupannya sehari-hari. Konsep kesejahteraan hewan sering mengacu pada prinsip yang sering dikenal sebagai lima kebebasan untuk hewan (five freedom), antara lain kebebasan dari rasa lapar dan haus, kebebasan dari rasa tidak nyaman,
kebebasan dari rasa sakit, cedera, dan luka, kebebasan dari rasa takut dan tertekan, serta kebebasan untuk bertingkah laku secara alamiah. Sebagai contoh, berikut penjelasan lima kebebasan pada hewan kesayangan (anjing dan kucing), antara lain:
1. Kebebasan dari rasa lapar dan haus (freedom of hunger and thirst)
Semua hewan memerlukan makan dan minum, sama seperti manusia. Oleh karena itu, semua hewan yang dipelihara harus disediakan cukup air dan makanan agar tidak kelaparan, serta hewan harus diberi makanan bergizi dan suplemen vitamin.
2. Kebebasan dari rasa tidak nyaman (freedom of discomfort)
Semua hewan harus merasa nyaman tinggal disuatu tempat dengan menyediakan tempat tinggal yang layak seperti memberikan kandang yang beralaskan handuk ataupun bantal.
3. Kebebasan dari rasa sakit, cedera, dan luka (freedom of pain, injury and disease)
Semua hewan harus dijaga kesehatannya agar tidak mudah terserang penyakit yang mudah menular, seperti virus dan hewan harus dibawa ke klinik hewan apabila cidera ataupun terluka.
4. Kebebasan dari rasa takut dan tertekan (freedom of fear and distress)
Jangan sakiti hewan karena hewan memiliki rasa takut dan stres. Oleh karena itu, sebaiknya hewan diberi kebebasan untuk bermain dengan hewan sejenisnya dan berikan taman bermain yang luas.
5. Kebebasan untuk bertingkah laku secara alamiah (freedom of express normal behavior)
Semua hewan ingin hidup dengan bebas, seperti menggonggong dan bertingkah laku selayaknya hewan. Oleh karena itu, peliharalah hewan dengan baik dan juga tidak mengganggu hewan ataupun manusia lain disekitarnya.
Prinsip lain kesejahteraan hewan bagi hewan laboratorium terdiri dari tiga poin yang sering disebut sebagai animal care and uses. Penggunaan hewan
coba ini diatur oleh suatu komisi etik penggunaan hewan atau penelitian yang di IPB sendiri diatur berdasarkan Surat Keputusan Rektor. Poin-poin tersebut terdiri dari replacement yaitu mencari pengganti agar tidak menggunakan hewan taksonomi tinggi, contoh jika hanya ingin melihat kerja dari suatu obat sebaiknya menggunakan hewan yang memiliki tingkat taksonomi yang rendah, seperti mencit. Reduction yaitu mengurangi jumlah hewan percobaan, dan refinement yaitu memperbaiki dan memperhalus perlakuan terhadap hewan percobaan. Komisi etik ini tidak mempersulit para peneliti, tetapi lebih memodifikasi metode kerja yang digunakan oleh peneliti sebagai contoh jika peneliti menggunakan 100 ekor hewan coba maka komisi etik ini dapat memodifkasi metode kerja untuk menggunakan hewan coba sebanyak 50 ekor saja. Penggunaan hewan coba ini harus didampingi oleh seorang dokter hewan sehingga dalam setiap aspek percobaan atau penelitian yang menggunakan hewan coba harus mengikutsertakan peran dokter hewan didalamnya.
Keberadaan hewan di dunia memiliki banyak manfaat bagi hewan itu sendiri, hewan lain, manusia, dan lingkungan. Bidang yang saya pelajari saat ini sangat membuka wawasan bagi saya sebagai mahasiswa kedokteran hewan bahwa hewan memberikan banyak manfaat bagi manusia sehingga harus diperhatikan kesejahteraannya.
Keberadaan hewan di dunia akan berpengaruh pada kesehatan manusia, hal ini berhubungan dengan manajemen pemeliharaan hewan yang baik. Jika manusia mengurus hewannya dengan baik maka akan menurunkan resiko penularan penyakit kepada manusia (zoonosis) dan keracunan makanan. Keracunan makanan sering terjadi dari produk pangan asal hewan dan sangat terkait dengan penanganan hewan sebelum dipotong, sebagai contoh E. coli yang alur penularannya pada manusia akibat daging yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau feses, hal ini dipengaruhi oleh keadaan ternak atau hewan di dalam kandang, populasi hewan yang terlalu padat, serta
penanganan hewan sewaktu pemotongan yang tidak memperhatikan higiene dan sanitasi lingkungan.
Penyakit zoonosa merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian karena semakin banyaknya penyakit zoonosa yang muncul, seperti rabies, flu burung, brucellosis, dan lain-lain. Kasus-kasus yang sering terjadi di manusia ini sebaiknya dianalisa dan dicari solusi permasalahan dengan memotong rantai penyebaran penyakit dihewannya, bukan pada manusianya itu sendiri.
Keberadaan hewan juga akan mempengaruhi perkembangan sosial di dalam masyarakat karena sikap dan perilaku manusia terhadap hewan akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku antar manusia itu sendiri, seperti yang pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi bahwa kebesaran sebuah bangsa dan ketinggian tingkat moralnya dapat dinilai dari cara bagaimana mereka memperlakukan hewan-hewannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bagaimana memeperlakukan hewan.
Sektor pertanian dan peternakan merupakan sektor utama dalam kehidupan manusia, sektor peternakan ini sangat memberikan manfaat dimana seluruh perekonomian keluarga sangat tergantung pada hewan ternak tersebut. Hewan ternak yang dipelihara dengan baik dan benar dapat menurunkan tingkat kemiskinan dan kelaparan bagi manusia. Pemeliharaan yang baik akan meningkatkan produktifitas ternak dan menolong perekonomian peternak dalam mencukupi kebutuhan pangannya sendiri, keluarga, dan komunitasnya.
Bencana alam merupakan kejadian alam yang tidak dapat diprediksi oleh manusia kecuali menggunakan alat pendeteksi bencana, sejak jaman dahulu manusia sudah memanfaatkan hewan sebagai pendeteksi bencana alam dengan melihat perilaku hewan yang berbeda dari biasanya, hal ini disebabkan oleh hewan memiliki perasaan yang lebih sensitif atau peka untuk mendeteksi adanya bencana sehingga perilaku hewan sebelum datang bencana akan memberikan signal positif kesiapsiagaan manusia terhadap bencana yang akan terjadi.
Kelestarian lingkungan dipengaruhi oleh keberadaan hewan di dunia karena pengelolaan hewan yang dilaksanakan dengan baik dan benar serta bertanggung jawab akan berdampak pada penggunaan lahan, perubahan iklim, polusi, ketersediaan air, habitat, konservasi, dan keanekaragaman yang lebih baik.
Kesejahteraan hewan juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan dengan mengakhiri kekejaman pada hewan untuk selama-lamanya. Hewan merupakan makhluk yang memiliki perasaan dan mudah sekali stres, kekejaman ini sering terjadi pada hewan liar atau satwa liar yang dijual di pasar hewan (Gambar 1). Kejadian ini sering sekali menyebabkan kematian hewan karena kekejaman dan keserakahan manusia. Hal ini harus disadari oleh manusia bahwa dalam kehidupan hewan akan menunjang kehidupan manusia dan lingkungannya di masa depan.
Gambar 1 Penjualan tukik di Pasar Hewan Jatinegara (dokumentasi pribadi diambil pada tanggal 16 Desember 2011)
Konsep kesejahteraan hewan yang diterapkan di Indonesia sebaiknya melibatkan berbagai aspek bidang ilmu dan cara untuk menerapkan kesejahteraan hewan di Indonesia antara lain:
1. Semua elemen masyarakat yaitu pemerintah, pelaku ekonomi, dan istutusi harus berperan aktif dalam mendeklarasikan kesejahteraan hewan di Indonesia.
2. Perguruan tinggi memasukkan kesejahteraan hewan di dalam kurikulum pendidikan.
3. Seluruh masyarakat harus memahami konsep kesejahteraan hewan.
4. Sektor penelitian dan pengembangan yang menggunakan hewan coba harus menerapkan standar kesejahteraan hewan dan diawasi oleh sebuah institusi.
5. Sektor agribisnis atau ekonomi harus memperhatikan rantai kesejahteraan hewan.
6. Asosiasi-asosiasi yang berhubungan dengan hewan berperan aktif dalam advokasi mengenai kesejahteraan hewan.
7. Peran aktif orang-orang profesi, seperti kompetensi kurikulum, asosiasi, dan advokasi dalam penerapan kesejahteraan hewan.
8. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) berperan aktif dalam mengkampanyekan kesejahteraan hewan kepada semua kalangan.
9. Support implementasi kesejahteraan hewan di Indonesia oleh agensi intern, seperti FAO, WHO, dan OIE.
10. Sebaiknya dibuat suatu modul pelatihan kesejahteraan hewan yang dirumuskan oleh Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan pemerintah.
Monday, January 30, 2012
Monday, January 2, 2012
Reproduction of Large Animal
Judul : Laporan Praktek Lapangan Pelayanan
Kesehatan Reproduksi Sapi Perah Di Wilayah
Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Tanggal : 17 Oktober s/d 12 November 2011
Nama/NRP : Loisa, SKH (B94104134)
Keadaan Umum KPSBU Lembang
Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) terletak di Kecamatan Lembang, 15 km sebelah utara Kota Bandung. Ketinggian wilayah kerja KPSBU kurang lebih mencapai 1.200 meter dari permukaan laut. Daerah ini termasuk dataran tinggi yang berhawa sejuk dengan kisaran suhu antara 15.6-16.8 °C pada musim hujan dan 30.5-32.7 °C pada musim kemarau (rataan suhu mencapai 15-18 °C). Curah hujan yang cukup tinggi yaitu sekitar 1.800-2.500 mm/tahun serta kondisi geografis yang berbukit menjadikan daerah ini cocok untuk peternakan sapi perah dan tanaman hortikultura. Daerah operasional KPSBU sangat strategis karena berada di tengah kota Lembang, dengan akses dari Kota Bandung ke Lembang sangat mudah karena banyak kendaraan umum yang menuju Lembang dari Bandung. Sebagian wilayah kerja KPSBU dapat diakses menggunakan kendaraan beroda empat dan sebagian wilayah lainnya hanya dapat diakses menggunakan kendaraan beroda dua.
Pelayanan Inseminasi Buatan (IB) pada Sapi Perah
Sistem pelaksanaan IB menggunakan semen beku kiriman dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat yang berasal dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang atau semen beku impor dari Kanada. Pengunaan semen beku di KPSBU Lembang dirotasi setiap tahunnya untuk menghindari terjadinya inbreeding. Sistem pelayanan IB dilakukan oleh peternak dengan memasukkan kartu pelayanan IB berwarna merah ke kotak pelaporan yang tersedia di TPS terdekat ataupun via telepon dan short message service (SMS) pada petugas di lapangan yaitu dokter hewan dan inseminator atau paramedis reproduksi setelah peternak melihat adanya sapi yang menunjukkan tanda berahi. Sebelum pelaksanaan IB dilakukan, terlebih dahulu petugas akan memeriksa tanda-tanda berahi dari keadaan luar tubuh hewan, kemudian petugas di lapangan melakukan persiapan IB antara lain membasahi tangan dengan air biasa, thawing straw semen beku, memasang straw pada IB gun, dan menyemprotkan straw pada sapi betina berahi.
Penjelasan mengenai pentingnya deteksi gejala berahi dan waktu IB yang tepat perlu diberikan kepada peternak karena masih banyak peternak yang menganggap bahwa sapi dapat bunting asal dikawinkan walaupun tidak berahi ataupun tidak memahami waktu optimum untuk IB. Bila sapi belum mengalami waktu berahi yang optimum untuk dilakukan IB maka sebaiknya peternak diberi keterangan secara sederhana mengenai waktu IB yang tepat. Menurut Webb (2003), waktu optimal untuk dilakukan IB adalah 9-24 jam sesudah awal atau pertengahan berahi sampai dengan 6 jam sesudah akhir berahi.
Sebagian besar peternak sapi perah di wilayah KPSBU Lembang sudah mengetahui cara-cara mendeteksi berahi. Biasanya bila telah terlihat tanda-tanda berahi, seperti vulva membengkak, berwarna merah, mengeluarkan lendir jernih dan kental, serta temperamen yang gelisah maka peternak langsung melapor pada inseminator diwilayahnya atau memasukkan kartu pelaporan pelayanan IB ke kotak pelaporan yang berada di TPS terdekat tanpa memperhitungkan derajat berahi dan umur sapi terutama untuk sapi dara. Sapi dara di lapangan kadang-kadang pada umur di bawah 15 bulan sudah minta di IB. Pelaksanaan IB di lapangan masih perlu perbaikan agar sesuai dengan standar pelaksanaan yang seharusnya. Hal yang masih perlu diperbaiki antara lain pada waktu memasukkan straw, inseminator biasanya tidak melakukan hal-hal seperti membersihkan gun IB terlebih dahulu, waktu thawing yang tidak diperhatikan, serta suhu air untuk thawing yang tidak sesuai dengan lama thawing.
Pelaksanaan thawing dilakukan secara cepat selama ± 20-30 detik dengan suhu air biasa sekitar ± 22 °C. Pelaksanaan thawing yang cepat ini memungkinkan semen beku yang akan dideposisikan masih dalam keadaan beku, hal ini dapat menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan IB di lapangan. Pelaksanaan thawing yang baik yaitu merendam straw yang berisi semen beku ke dalam air bersuhu 37.5 °C selama 25-30 detik atau menggunakan air biasa bersuhu 25-30 °C selama ± 1 menit (Affandy et al. 2007).
Setiap pelaksanaan IB dicatat oleh petugas pelayanan IB yang meliputi tanggal IB, IB keberapa, waktu IB terakhir, derajat berahi, nomor straw, nama pejantan, nomor telinga atau nama sapi, dan nama pemilik. Pencatatan dilakukan oleh petugas IB setelah pelaksanaan IB selesai, kertas pencatatan IB terdiri dari dua lembar, lembar pertama berwarna putih sebagai arsip koperasi, sedangkan lembar kedua berwarna merah akan diberikan kepada peternak. Biasanya petugas di lapangan tidak akan menulis IB yang keberapa, jika sapi tersebut sudah di IB lebih dari dua kali sehingga tidak diketahui dengan jelas apa yang menyebabkan kegagalan IB, serta petugas di lapangan juga tidak melaporkan kepada dokter hewan dengan harapan sapi tersebut akan bunting setelah di IB yang kesekian kalinya.
Pelaksanaan IB yang dilakukan selama kegiatan magang profesi wajib sapi perah sebanyak 31 kali, dimana sebanyak 17 ekor sapi di IB oleh petugas, 14 ekor sapi lainnya di IB oleh mahasiswa didampingi oleh petugas di lapangan. Pelaksanaan IB di lapangan hanya dilakukan satu kali dalam sehari yaitu pada pagi hari, sebaiknya pelaksanaan IB dilakukan dua kali yaitu pada pagi dan sore hari, jika sapi menunjukkan gejala berahi pada pagi hari maka petugas melakukan IB pada sore hari dan sebaliknya. Petugas pelaksana IB melakukan pelaporan ke bagian administrasi secara rutin untuk dilakukan rekapitulasi dalam bentuk recording IB bulanan. Semua data IB yang dilakukan oleh petugas IB akan direkapitulasi ke data base komputer untuk melihat keberhasilan IB yang dilakukan. Dari data tersebut dapat dilihat jumlah straw yang terpakai, kinerja inseminator, berapa kali IB yang dilakukan hingga berhasil, serta informasi nama pejantan dan nomor telinga sapi betina yang menghasilkan pedet. Menurut Rahadi (2009), proses pencatatan yang baik akan memberikan beberapa keuntungan antara lain dapat mengatur jarak kelahiran dengan baik dan mencegah terjadinya inbreeding.
Jarak dan wilayah kerja sangat menentukan keberhasilan IB, wilayah kerja yang berbukit dan sulit dijangkau menyebabkan pelaksanaan IB lewat dari waktu optimal IB. Menurut Affandy et al. (2007), ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan IB, antara lain ketepatan deteksi tanda berahi, kondisi reproduksi sapi betina, kualitas semen yang digunakan, serta manajemen pakan. Kegagalan IB mengakibatkan kerugian waktu, tenaga, pakan, dan biaya yang cukup besar bagi peternak dan petugas IB sehingga keberhasilan IB sangat diharapkan oleh peternak dan petugas IB. Untuk meningkatkan keberhasilan IB sebaiknya peternak dan petugas memeriksa apakah sapi benar-benar berahi atau tidak berahi, memeriksa kondisi saluran reproduksi sapi betina, memastikan bahwa straw yang berisi semen beku tersebut diletakkan di dalam nitrogen cair bersuhu -196 °C, memastikan bahwa alat yang akan digunakan dalam pelaksanaan IB dalam kondisi yang bersih dan steril, serta vulva harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilakukan IB untuk menghindari adanya kontaminasi pada saluran reproduksi.
Efisiensi reproduksi merupakan suatu hal yang penting dalam peternakan sapi perah. Efisiensi reproduksi diukur dari jarak antar kelahiran (calving interval atau CI), jumlah pelayanan IB hingga sapi mengalami kebuntingan (service/conception atau S/C), dan persentase kebuntingan (conception rate atau CR). Nilai CI merupakan jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya, umumnya nilai CI adalah 12 bulan. Nilai S/C merupakan penilaian untuk mengetahui berapa banyak jumlah pelayanan IB hingga sapi mengalami kebuntingan. Di Indonesia nilai CI ini berkisar antara 13-17 bulan, jarak ini diperpanjang dengan adanya gangguan reproduksi ataupun gangguan kesehatan. Menurut Turkyilmaz (2005), nilai S/C dalam kisaran normal adalah 1.6-2.2. Nilai S/C di KPSBU pada bulan Oktober 2010 adalah 1.5 yang berada di bawah kisaran rataan untuk Indonesia (Keswan-IB 2011). Keberhasilan IB juga dapat dilihat dari angka CR yang telah dicapainya. Menurut Smith (2007), nilai CR normal adalah 50%-70%. Nilai CR di KPSBU pada Oktober 2010 adalah 50%, yang masih dalam kisaran normal (Keswan-IB 2011).
Pelayanan Pemeriksaan Kebuntingan (PKB)
Sistem pelayanan PKB di lapangan dilakukan berdasarkan permintaan peternak dengan metode yang sama seperti permintaan IB. Pelaksanaan PKB biasanya dilakukan jika sapi milik peternak telah di IB sebelumnya dan tidak menunjukkan gejala berahi kembali. Sebelum melakukan PKB petugas mengumpulkan terlebih dahulu informasi tentang kapan IB terakhir dilakukan dan berapa kali dikawinkan. Sebagian petugas ataupun peternak selalu mencatat tanggal IB di tiang kandang ataupun papan di dalam kandang setelah dilakukan IB, hal ini bertujuan untuk memastikan apakah setelah dilakukan IB pada tanggal tersebut sapi benar bunting atau pelaksanaan IB gagal, serta untuk menentukan kapan sapi akan melahirkan dan pertolongan kebidanan.
Pemeriksaan PKB pada sapi dengan kebuntingan di bawah dua bulan jarang dilakukan oleh petugas atau inseminator di lapangan, hanya sebagian petugas yaitu dokter hewan dan paramedis reproduksi yang dapat melakukannya. Pelaksanaan PKB di lapangan dilakukan terhadap 13 ekor sapi, dimana empat ekor sapi kosong dan hasil kebuntingan terhadap sembilan ekor sapi dalam masa kebuntingan yang bervariasi (Tabel 1). Sistem pencatatan pelaksanaan PKB di lapangan dilakukan oleh petugas yang meliputi tanggal PKB dan hasil PKB. Kertas pencatatan PKB menyatu dengan kertas yang digunakan pada pencatatan IB. Sistem pencatatan PKB masih perlu diperbaiki, pencatatan PKB kosong tidak dilakukan oleh petugas di lapangan sehingga tidak ada pencatatan PKB yang terprogram.
Tabel 1 Pelaksanaan PKB di lapangan
| Umur kebuntingan | Jumlah (ekor) | Parameter |
| Kosong | 4 | Tidak ada perubahan pada saluran reproduksi yang mengarah pada diagnosa kebuntingan. |
| 2 bulan | - | Asimetri koruna uteri dan adanya fluktuasi saat dipalpasi. |
| 3 bulan | 2 | Kornua asimetris, dimana satu kornua lebih jelas memperlihatkan adanya fetus. |
| 4 bulan | 2 | Asimetris kornua semakin jelas dan sedikit terasa fremitus. |
| 5 bulan | 4 | Letak fetus menjauh ke dalam rongga abdomen dan fremitus terasa kuat. |
| 6-7 bulan | - | Fetus kembali teraba, fremitus semakin kuat terasa, serta posisi organ reproduksi menggantung di ruang abdomen dan agak naik dari dasar abdomen. |
| 8 bulan | 1 | Fremitus teraba jelas dan desirannya terasa kuat, serta kaki fetus teraba. |
| 9 bulan | - | Kepala dan kaki fetus mengarah ke ruang pelvis. |
Pelaksanaan PKB yang terprogram dengan baik dapat menentukan keberhasilan efisiensi reproduksi karena identifikasi sapi yang bunting ataupun tidak bunting akan lebih cepat, kapan sapi akan melahirkan diketahui, pertolongan kebidanan dengan cepat, serta tidak memperpanjang masa kosong dan jarak kelahiran.
Pelayanan Penanganan Pre dan Post Partus
Pelayanan pre dan post partus dilakukan terhadap sapi yang akan melahirkan dan setelah melahirkan, biasanya dilakukan dengan pemberian suntikan multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh sapi ketika akan melahirkan ataupun setelah melahirkan. Hal ini dilakukan oleh peternak akibat kekhawatiran peternak jika kondisi tubuh sapi akan melemah saat pre dan post partus.
Pelayanan pre partus yang dilakukan selama kegiatan magang profesi wajib sapi perah di KPSBU Lembang sebanyak dua ekor, sedangkan pelayanan post partus dilakukan sebanyak lima ekor (Tabel 2). Terapi yang diberikan untuk pelayanan pre partus berupa multivitamin, seperti Vitaplex-B-inj® (dosis 5 ml/200 kg bb) sebanyak 10-20 ml secara intra muskuler (IM) dan Introvit-E-Selen® (dosis 2 ml/10 kg bb) sebanyak 10-20 ml secara IM.
Tabel 2 Rekapitulasi pelayanan pre dan post partus
| Jenis pelayanan | Jumlah (ekor) | Terapi yang diberikan |
| Pre partus | 2 | Vitaplex-B-inj® 10-20 ml (IM) dan Introvit-E-Selen® 15-20 ml (IM) |
| Post partus | 5 | Vitaplex-B-inj® 10-20 ml (IM) dan Floxyvet® 15-20 ml (IM). |
Menurut Darryl (2003), Vitaplex-B-inj® mengandung vitamin B1 (tiamin hidroklorida) sebanyak 10 mg, vitamin B2 (riboflavin natrium fosfat) sebanyak 5 mg, vitamin B6 (piridoksin hidroklorida) sebanyak 5 mg, vitamin B12 (cyanokobalamin) sebanyak 20 mg, D-Pantenol sebanyak 12.5 mg, nikotinamida sebanyak 50 mg, biotin sebanyak 100 mg, kolin klorida sebanyak 10 mg, dan ekstrak hati sebanyak 2 mg. Vitaplex-B-inj® merupakan kombinasi vitamin B yang seimbang dan esensial untuk menjalankan fungsi-fungsi fisiologis pada sapi yang berfungsi untuk mencegah dan mengobati defisiensi vitamin B, mencegah stres akibat vaksinasi, transportasi, kelembaban suhu tinggi, perubahan suhu yang ekstrim dan penyakit, serta memperbaiki konversi pakan. Pemberian Vitaplex-B-inj® di lapangan sebanyak 10-20 ml secara IM berfungsi untuk merangsang peningkatan nafsu makan.
Pemberian Introvit-E-Selen® sebanyak 15-20 ml secara IM berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mengatasi stres, serta meningkatkan fertilitas dan menurunkan resiko kelainan reproduksi. Menurut Interchemie (2011), Introvit-E-Selen® mengandung vitamin E dan tokoferol asetat sebanyak 50 mg, serta natrium selenit sebanyak 0.5 mg. Vitamin E merupakan antioksidan yang berguna melindungi dan menjaga keutuhan membran sel tubuh dari kerusakan karena proses oksidasi lemak. Selenium adalah komponen penting dari enzim glutathion peroxidase (GSH) yang berperan dalam melindungi sel dari kerusakan akibat oksidasi oleh hidrogen peroksida. Perlindungan terhadap sel-sel reproduksi mampu meningkatkan fertilitas dan menurunkan resiko kelainan reproduksi.
Pelayanan post partus dilakukan beberapa jam ataupun satu hari setelah sapi melahirkan, yang meliputi pemeriksaan terhadap kebersihan pengeluaran plasenta dan kondisi umum induk yang melahirkan. Pelayanan post partus di lapangan diberikan vitamin dan antibiotik yaitu Vitaplex-B-inj® sebanyak 10-20 ml secara IM dan antibiotika Floxyvet® (dosis 5-7 ml/200 kg bb ) sebanyak 10-20 ml secara IM. Pemberian Vitaplex-B-inj® berfungsi sebagai perangsang nafsu makan karena kebanyakan sapi setelah melahirkan akan mengalami penurunan nafsu makan. Floxyvet® mengandung enrofloksasin yang berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang berada pada saluran reproduksi yang kemungkinan besar masuk pada saat proses kelahiran ataupun setelah kelahiran akibat jalan kelahiran masih tetap terbuka sesaat setelah kelahiran. Menurut Plumb (2005), enrofloksasin merupakan bakterisidal yang memiliki spektrum kerja yang luas dan efektif untuk infeksi bakteri, seperti E. Coli, Salmonella thyphimurium, Staphylococcus, Streptococcus, Klebsiella, dan Pasteurella.
Susu yang dihasilkan setelah sapi melahirkan akan diberikan pada anak atau pedet sebagai kolostrum sebagai imunitas tubuh atau daya tahan tubuh, sedangkan sebagian susu lainnya akan disetorkan peternak kepada koperasi atau KPSBU Lembang. Petugas penampung susu sebaiknya memeriksa dan memisahkan susu yang berasal dari sapi yang disuntik antibiotik dengan yang tidak disuntik antibiotik.
Pelayanan Penanganan Gangguan Reproduksi
Gangguan reproduksi merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena bersangkutan dengan keberlanjutan usaha ternak dan akan berdampak pada kerugian finansial bagi peternak. Sistem pelayanan gangguan reproduksi sama seperti pelayanan IB dan PKB. Peternak akan melaporkan sapinya yang sakit dengan meletakkan kartu berwarna kuning pada TPS terdekat.
Petugas di lapangan akan segera menangani kasus tersebut, apabila petugas (paramedis atau inseminator) tidak mampu menangani kasus tersebut maka petugas akan melaporkan pada dokter hewan. Jika ada kasus darurat yang harus segera ditangani maka petugas dapat bekerja di luar jam dan wilayah kerjanya, misalnya pada malam hari.
Kasus gangguan reproduksi yang ditemui selama magang profesi wajib sapi perah antara lain empat ekor sapi mengalami abortus, lima ekor sapi mengalami retensio sekundinarum, satu ekor sapi mengalami mumifikasi, dua ekor sapi mengalami endometritis, serta satu ekor sapi mengalami freemartin (Tabel 3).
Tabel 3 Rekapitulasi kasus gangguan reproduksi
| Kasus gangguan reproduksi | Jumlah (ekor) | Terapi |
| Abortus | 4 | Traksi fetus, Cotrimoxazole® 960 mg/tablet 2-6 tablet intra uterin, penstrep 20 ml dan povidone iodine 5 ml intra uterin, dan Vitaplex-B-inj® 10-20 ml (IM). |
| Retensio sekundinarum | 5 | Pelepasan plasenta manual, Cotrimoxazole® 960 mg/tablet 2-6 tablet intra uterin, dan Vitaplex-B-inj® 10-20 ml (IM). |
| Mumifikasi | 1 | Noroprost® 0.5% 5 ml (IM) dan Sulpidon® 10-20 ml dan Biosalamin® 10-20 ml (IM). |
| Endometritis | 2 | Penstrep 20 ml dan povidone iodine 5 ml intra uterin, serta Vitaplex-B-inj® 10-20 ml (IM). |
| Freemartin | 1 | Sulpidon® 15 ml (IM) dan Biosalamin® 15 ml (IM). |
Abortus
Abortus adalah kejadian keluarnya fetus dalam keadaan mati dari isi uterus sebelum mencapai usia kelahiran. Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan mulai dari dua bulan sampai saat akhir masa kebuntingan. Menurut Jainudeen dan Hafez (2000), abortus merupakan terminasi kebuntingan setelah terjadinya organogenesis sebelum fetus dapat dikeluarkan dengan normal. Kematian embrional selama dalam uterus ditentukan oleh konstitusi genetik zigot dan keadaan lingkungan di dalam uterus. Menurut Jackson (2007), lingkungan dalam uterus yang rusak akan menyebabkan fetus yang berada di dalam uterus keluar melalui cervix.
Menurut Jainudeen dan Hafez (2000), abortus digolongkan menjadi dua yaitu abortus infeksius dan abortus non infeksius. Prevalensi kejadian abortus non infeksius lebih tinggi daripada abortus infeksius. Penyebab kejadian abortus non infeksius adalah abortus spontan akibat kelainan dari genetik, kromosom, hormonal, dan faktor nutrisi. Abortus infeksius disebabkan oleh infeksi mikroorganisme sehingga menimbulkan berbagai infeksi penyakit, seperti vibriosis (Campylobacter fetus), brucellosis (Brucella abortus), leptospirosis (Leptospira pomona atau Leptospira hardjo), dan trichomoniasis (Trichomonas fetus). Menurut Aiello et al. (1998), ada berbagai mikroorganisme lain yang dapat menyebakan abortus pada sapi antara lain infeksi Neospora, bovine viral diarrhea (BVD), infectious bovine rhinotracheitis (IBR), Actinomyces pyogenes, Listeria monocytogenes, Chlamydia psittaci, serta penyebab lainnya, seperti Bluetongue dan Parainflueza-3 yang merupakan penyakit viral yang dapat menyebabkan abortus pada sapi.
Fetus yang mengalami abortus harus segera dikeluarkan dari uterus induk untuk menghindari infeksi sekunder dan gangguan reproduksi lainnya. Penanganan yang dilakukan pada kasus abortus di lapangan adalah traksi atau tarik paksa fetus yang dilakukan oleh 3-4 orang dan pemberian obat seperti Cotrimoxazole® (960 mg/tablet) sebanyak 2-6 tablet secara intra uterin, penisilin 200.000 IU/ml dan streptomisin 200 mg/ml (penstrep) sebanyak 20 ml digabung dengan povidone iodine sebanyak 5 ml secara intra uterin, dan Vitaplex-B-inj® sebanyak 10-20 ml secara IM.
Menurut Plumb (2005), Cotrimoxazole® (dosis 2-4 tablet) merupakan gabungan antibiotik yaitu sulfametoksazol dan trimetoprim yang memberikan efek bakterisidal, berfungsi untuk mencegah infeksi saluran reproduksi, seperti endometritis, metritis, retensio sekundinarum, prolapsus uteri, abortus, ataupun piometra. Obat ini juga sering digunakan di lapangan untuk gejala diare pada pedet, dengan dosis 1 tablet/32-36 kg bb secara peroral. Penanganan kasus abortus sebaiknya diawali dengan tindakan premedikasi dengan anastesi epidural yaitu dengan pemberian lidokain 2% (dosis 1-2 ml) yang diberikan secara epidural antara tulang sacral terakhir dengan tulang coccigeae pertama (Plumb 2005).
Retensio Sekundinarum
Retensio sekundinarum adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon fetus dari kripta karunkula induknya. Kejadian ini sering terjadi sapi, tetapi jarang sekali terjadi pada hewan lain, hal ini karena bentuk plasenta sapi yang terdiri dari kotiledon dan karunkula. Secara normal plasenta akan keluar 4-5 jam setelah fetus dilahirkan. Jika plasenta tidak keluar dalam jangka waktu 12 jam maka hewan tersebut menderita retensio sekundinarum (Subronto dan Tjahajati 2001).
Penyebab terjadinya retensio sekundinarum adalah adanya gangguan mekanisme aliran darah, dimana setelah fetus keluar, tidak ada darah yang mengalir ke vili fetus dan vili tersebut berkerut serta mengendur. Pada retensio sekundinarum pemisahan dan pelepasan vili fetus dari kripta maternal terganggu dan terjadi pertautan (Paraswati 2005). Penyebab lain dari kejadian retensio sekundinarum yang sering terjadi di lapangan menurut Direktorat Kesehatan Hewan (2009) adalah infeksi mikroorganisme sehingga uterus lemah untuk dapat berkontraksi, pakan (kekurangan karotin dan vitamin A), serta kurangnya exercise sehingga otot uterus tidak kuat untuk berkontraksi.
Gejala klinis yang muncul pada kejadian retensio sekundinarium di lapangan antara lain plasenta tidak keluar setelah 9-12 jam kelahiran, induk sapi mengalami penurunan nafsu makan, serta peningkatan suhu tubuh. Jika muncul gejala-gejala di atas maka peternak akan segera melaporkan kejadian tersebut pada petugas di lapangan untuk dilakukan pelepasan plasenta secara manual yaitu melepaskan perlekatan antara kotiledon dan karunkula secara satu persatu menggunakan jari tangan dengan palpasi pervaginal.
Kejadian retensio sekundinarum yang terjadi di lapangan diduga akibat prematur pada 7 bulan masa kebuntingan sehingga perlekatan antara kotiledon dan karunkula masih terikat sangat kuat. Penebalan yang terjadi pada plasenta diduga akibat infeksi dari mikroorganisme, seperti Brucella abortus (Gambar 1 dan 2). Menurut Aiello et al. (1998), infeksi brucellosis yang disebabkan oleh Brucella abortus pada sapi dapat menyebabkan abortus, kelahiran pedet yang lemah, retensio sekundinarum, dan penurunan produksi susu.
Untuk memastikan penyebab kejadian di atas, sebaiknya petugas atau pihak KPSBU Lembang melakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan laboratorium untuk memastikan mikroorganisme penyebab kejadian tersebut. Menurut Soeharsono (2001), brucellosis merupakan penyakit pada sapi dan beberapa jenis hewan lainnya yang disebabkan oleh Brucella abortus dan dapat menular pada manusia atau bersifat zoonosis. Pemeriksaan lanjutan dapat memperkecil kemungkinan kejadian tersebut berulang dan menular pada manusia ataupun sapi betina lainnya sehingga dapat merugikan peternak.

Gambar 1 Prematur pada pedet

Gambar 2 Retensio sekundinarum diduga akibat infeksi mikroorganisme
Kejadian retensio sekundinarum di lapangan akan segera dilaporkan oleh peternak meskipun waktunya belum 12 jam. Petugas akan segera menangani dengan cara pelepasan plasenta secara manual, setelah pelepasan plasenta selesai dilakukan, lalu dimasukkan bolus Cotrimoxazole® (960 mg/tablet) sebanyak 2-6 tablet secara intra uterin dan Vitaplex-B-inj® sebanyak 10-20 ml secara IM. Waktu untuk melepaskan kotiledon dari karunkula sebaiknya berkisar 5-20 menit dengan frekuensi pengeluaran tangan yang seminimal mungkin. Alternatif penanganan lain dari kasus ini adalah dengan cara memotong plasenta yang keluar dari vulva saja, kemudian diberi bolus atau antibiotika ke dalam uterus. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko perdarahan dan infeksi akibat pelepasan kotiledon secara manual, dengan harapan sisa plasenta yang tertinggal dalam uterus akan hancur dan dikeluarkan bersama dengan keluarnya lochia.
Penanganan pelepasan plasenta yang dilakukan di lapangan masih perlu dilakukan secara lege artis dan memperhatikan segi kebersihan akibat petugas di lapangan jarang sekali menggunakan air hangat sebelum melakukan eksplorasi pervaginal sehingga memungkinkan masuknya mikroorganisme ke dalam saluran reproduksi ataupun sebaliknya. Penanganan lainnya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya retensio sekundinarum adalah mencegah jangan sampai induk setelah melahirkan mengalami eksitasi, induk tidak terlalu gemuk, penyuntikan estrogen dan oksitosin dengan dosis 40-100 IU pada 0-4 jam post partus, serta menghindari penggunaan lantai kandang yang terlalu licin dan berdebu untuk menghindari kontaminasi serta menjaga keseimbangan pakan. Pemberian hormon (estrogen dan oksitosin) bertujuan untuk meningkatkan kontraksi uterus sehingga plasenta setelah melahirkan dapat keluar (Subronto dan Tjahajati 2001).
Mumifikasi
Mumifikasi merupakan kejadian kematian fetus dalam uterus tanpa disertai pencemaran mikroorganisme, disertai dengan penyerapan cairan fetus oleh dinding uterus setelah terjadi proses autolisis sehingga tubuh fetus menjadi kering dan keras, serta diikuti dengan proses involusi uteri yang normal, sering terjadi pada umur kebuntingan 5-7 bulan (Jainudeen dan Hafez 2000).
Menurut Joomla (2008), ada dua tipe mumifikasi yaitu tipe hematik dan tipe papyraceous. Pada tipe hematik, mumifikasi terjadi pada bulan ke 3-8 masa kebuntingan dan terjadi pendarahan antara endometrium dan membran fetalis. Penyebab dari mumifikasi tipe hematik adalah kematian fetus normal dan juga dapat disebabkan oleh faktor genetik. Pada tipe papyraceous, fetus lahir dalam keadaan mati kering terbungkus oleh selubung fetus yang basah dan mengkilat.
Penyebab terjadinya mumifikasi adalah kematian fetus non infeksi, torsio uteri, serta adanya tali pusat yang terjepit sehingga terjadi gangguan sirkulasi darah dan mengganggu suplai nutrisi dari induk ke anak. Kondisi mumifikasi dapat diidentifikasi bila sapi gagal memperlihatkan perkembangan kelenjar ambing dan gagal melahirkan pada waktu yang telah ditentukan. Makin lama proses mumifikasi berlangsung, makin banyak cairan yang diserap maka fetus akan semakin keras. Pada palpasi perektal akan didapatkan massa keras dalam uterus, dinding uterus tipis dan tegang, uterus dan isinya dapat dipalpasi tanpa dapat diabsorbsi, tidak ada karunkula, dan tidak ada fremitus (Hafez dan Jainudeen 2000). Pada palpasi di lapangan didapatkan massa keras dalam uterus, dinding uterus tipis dan tegang, serta tidak ada fremitus.
Penanganan yang dilakukan di lapangan adalah pemberian PGF2α atau prostaglandin yaitu Noroprost® 0.5% (dinoprost 5 mg dan fenol 2.5 mg) sebanyak 5 ml secara IM, Sulpidon® 10-20 ml, dan Biosalamin® 10-20 ml (IM). Pemberian Noroprost® 0.5% dilakukan secara intra labia vulva (Gambar 3). Aplikasi penyuntikan secara intra labia vulva di lapangan adalah untuk lebih mendekati pada target organ. Pemberian hormon prostaglandin di lapangan untuk kasus mumifikasi diberikan dua kali penyuntikan sebanyak 5 ml/hari. Setelah penyuntikan yang ke dua pada pagi hari, sore hari fetus yang mengalami mumifikasi keluar dari dalam uterus dengan kondisi yang sudah mengering. Penyuntikan prostaglandin dapat menyebabkan terjadinya kontraksi uterus. Selain prostaglandin dapat juga diberikan stilbestrol 50-80 mg atau estradiol 5-8 mg yang dapat menyebabkan relaksasi cervix dan ekspulsi fetus (Joomla 2008). Penyuntikan tunggal estrogen akan membuat fetus keluar 37-72 jam kemudian, sedangkan dosis tinggi estrogen dapat mendilatasi cervix sehingga fetus keluar 24-36 jam.
Menurut Kusumawati (2009), setiap ml Sulpidon® (dosis 10-20 ml/200-400 kg bb) mengandung dipyrone 250 mg dan lidokain 2%. Pemberian Sulpidon® berfungsi sebagai analgesik, antipiretik, dan antispasmodik sehingga akan mengurangi rasa sakit post partus. Menurut Darryl (2003), komposisi Biosalamin® terdiri dari adenosin asam trifosfat (ATP) 0.1 g, magnesium aspartat 1.5 g, kalium aspartat 1 g, natrium selenit 103 g, vitamin B12 0.05 g, dan akuades 100 ml. Fungsi dari Biosalamin® adalah untuk stimulasi tubuh secara umum terutama pada tonus urat daging, kelemahan diakibatkan oleh kekurangan makanan, infeksi, ataupun keturunan, keadaan sakit atau miositis akut, dan kelemahan akibat melahirkan. Dosis yang dianjurkan digunakan pada sapi di lapangan adalah 10 ml/100 kg bb atau 20 ml/ekor, sedangkan untuk pedet sebanyak 5-10 ml/ekor secara IM (Husnurrizal et al. 2008 dan Darryl 2003).

Gambar 3 Penyuntikan hormon prostaglandin secara intra labia vulva
Endometritis
Endometritis merupakan peradangan pada selaput lendir endometrium yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme yang masuk ke dalam uterus melalui vagina ataupun aliran darah (hematogen). Uterus yang normal merupakan lingkungan yang steril jika dibandingkan dengan vagina yang memiliki berbagai macam mikroflora normal (Aiello et al. 1998).
Penyebab endometritis adalah bakteri non spesifik yang terbawa masuk ke dalam uterus pada saat dilakukannya IB yang kurang higienis atau masuk pada saat melahirkan dimana cervix masih dalam keadaan terbuka sesaat setelah melahirkan. Bakteri tersebut dapat berasal dari lingkungan, seperti feses, udara, dan alat kandang. Infeksi pada uterus dapat disebabkan oleh infeksi tunggal dari Actinomyces pyogenes (A. pyogene) ataupun sinergisme antara A. pyogenes, Fusarium. necrophorum, dan Prevotella melaninogenicus ataupun bakteri Gram negatif anaerobik yang dapat menyebabkan kasus endometritis yang lebih parah (Aiello et al. 1998 dan Ilham 2004).
Gejala yang tampak pada kasus endometritis adalah keluarnya lendir mukopurulen dari vulva. Kejadian endometritis yang bersifat kronis dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan infertilitas pada sapi (Aiello et al. 1998). Gejala yang tampak pada kejadian endometritis di lapangan adalah sapi mengeluarkan lendir berwana keruh dari vulva (Gambar 4) dan jika dilakukan palpasi perektal didapatkan ukuran uterus yang membesar akibat pembengkakkan.

Gambar 4 Kejadian endometritis pada sapi
Penanganan kasus endometritis di lapangan dengan pemberian penisilin 200.000 IU dan streptomisin 200 mg (penstrep) sebanyak 20 ml yang digabung dengan povidone iodine sebanyak 5 ml secara intra uterin dengan menggunakan plastic sheath yang digunting pada bagian ujungnya dan gun IB. Antibiotik dan antiseptik yang diberikan berfungsi untuk membunuh mikroorganisme di dalam uterus. Jika sapi tidak nafsu makan, biasanya petugas kesehatan di lapangan memberikan Vitaplex-B-inj® sebanyak 10-20 ml secara IM.
Menurut Ilham (2004), terapi yang dapat diberikan untuk kasus endometritis adalah antibiotik lokal atau sistemik, seperti oksitetrasiklin 500-1500 mg dengan pemakaian maksimal 3-6 g secara intra uterin, neomisin 500-1000 mg, prostaglandin atau estradiol, ataupun terapi microwave dengan intensitas yang rendah. Menurut Aiello et al. (1998) dan Leblanc (2001), terapi untuk kasus endometritis dapat dilakukan dengan pemberian hormon prostaglandin atau estradiol sebanyak 5-10 ml/ekor sapi yang akan berfungsi untuk menstimulasi kontraksi uterus dan pengeluaran eksudat dari dalam uterus. Plumb (2005) menjelaskan bahwa antibiotik penisilin (500.000-1.500.000 IU) dan streptomisin (250-1.000 mg) cukup efektif untuk kasus endometritis.
Kejadian endometritis di lapangan dapat dicegah dengan memperhatikan higiene peternak dan sanitasi lingkungan serta alat-alat kandang yang digunakan. Kebersihan alat-alat yang digunakan saat melakukan IB dan kebersihan tangan petugas saat membantu proses kelahiran dapat menekan prevalensi kejadian endometritis.
Freemartin
Freemartin merupakan suatu kelainan kelahiran akibat hewan betina memiliki uterus yang tidak berkembang seperti tali atau selang kecil, hal ini dihubungkan oleh kejadian kembar satu jantan dan satu betina akibat terjadi anastomosis atau hubungan antara pembuluh darah pada sambungan kantong allantois. Tingkat kejadian pada sapi adalah 92% kembar jantan dan betina mengalami freemartin. Penyebab kejadian freemartin adalah hormon androgen (jantan) pada tahap awal diferensiasi jaringan testikular fetus jantan menghambat proses diferensiasi gonad betina dan saluran mulleri (Aiello et al. 1998).
Tanda klinis atau perubahan pada organ dan saluran reproduksi yang ditemukan, seperti anestrus, vagina seperti selang kecil dan buntu, klitoris berkembang besar, uterus pipih seperti pita, dan ovarium mengalami hipoplasia, aplasia, ataupun hipofungsi. Kasus yang ditemukan di lapangan bahwa sapi tidak pernah berahi. Untuk mendiagnosa kejadian freemartin dapat dilakukan dengan analisa hormon androgen (testosteron) dan analisa kromosom, yaitu terjadi percampuran hemopoetic precursor cells sehingga ditemukan sel jantan dan betina di setiap pedet kembar beda kelamin, serta ditemukan kromosom khimera (Anonim 2005).
Menurut Direktorat Kesehatan Hewan (2009), freemartin sering disebut sebagai kelainan bawaan pada saluran reproduksi. Tidak ada terapi khusus untuk kasus freemartin dan sebaiknya sapi yang mengalami freemartin tidak dijadikan sebagai indukan. Petugas akan memberikan penjelasan pada peternak sehingga peternak tidak mengharapkan bahwa pedet yang dilahirkan akan memiliki keturunan. Kasus freemartin ditemukan satu ekor di lapangan, dengan tanda klinis sapi tidak pernah berahi, sapi bunting dan lahir kembar, dan ditemukan ukuran uterus yang kecil setelah petugas melakukan pemeriksaan perektal. Penanganan yang dilakukan di lapangan dengan pemberian Sulpidon® sebanyak 15 ml secara IM yang berfungsi sebagai analgesik, antipiretik, dan antispasmodik sehingga akan mengurangi rasa sakit post partus, serta diberikan juga Biosalamin® sebanyak 15 ml secara IM.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan di KPSBU Lembang sudah cukup baik berdasarkan nilai S/C (1.5) dan CR (50%), tetapi pelaksanaan inseminasi buatan hanya dilakukan satu kali yaitu pada pagi hari.
2. Sistem pencatatan dan evaluasi pelaksanaan inseminasi buatan di KPSBU Lembang sudah terlaksana dengan baik, tetapi pencatatan dan evaluasi pemeriksaan kebuntingan belum terlaksana secara terprogram.
3. Pelayanan pre dan post partus sudah cukup baik sehingga jarang sekali ditemukan gangguan pada kebuntingan sebelum dan setelah melahirkan.
Saran
1. Pelaksanaan inseminasi buatan seharusnya dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari.
2. Perlu dilakukan pelatihan untuk standarisasi prosedur pelaksanaan IB yang baik dan lege artis kepada petugas di lapangan.
3. Diperlukan standarisasi penanganan kasus penyakit di lapangan yang dibuat oleh dokter hewan agar pengobatan yang dilakukan oleh paramedis atau inseminator tepat dan sesuai dengan penyakit yang diderita oleh sapi.
4. Perlu dilakukan pencatatan (recording) dan evaluasi pelaksanaan PKB agar efisiensi reproduksi tercapai.
5. Perlu adanya pencatatan dan evaluasi tentang penggunaan antibiotika sehubungan dengan adanya ketentuan dari industri pengolah susu bahwa susu harus bebas residu antibiotika.
6. Perlu adanya penyuluhan pada peternak tentang bahaya residu antibiotika dalam susu jika dikonsumsi oleh konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Affandy L, Dikman DM, dan Aryogi. 2007. Manajemen Perkawinan Sapi Potong. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Anonim. 2005. Manajemen Peternakan Sapi Perah. Jakarta: Menteri Negara Riset dan Teknologi.
Aiello BS et al. 1998. The Merck Veterinary Manual. Whitehouse Station: Merck & Co., Inc.
Darryl. 2003. Darryl Kosambi Pet. http://introvit-b-complex.blogspot.com/ [20 November 2011].
Direktorat Kesehatan Hewan. 2009. Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) Tahun 2014. Jakarta: Departemen Pertanian Direktorat Jendral Peternakan.
Husnurrizal et al. 2008. Penyelidikan Kejadian Penyakit Haemochiasis. Banda Aceh: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala.
Ilham SW. 2004. Hubungan Antara Kejadian Retensio Sekundinae dan Endometritis pada Sapi Perah. Skripsi. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institus Pertanian Bogor.
Interchemie. 2011. Introvit-E-Selen Injeksi. http://temanc.com/id/in/interchemie/bentuk-sediaan produk/injeksi/1050.html [20 November 2011].
Jackson PGG. 2007. Handbook Obstetri Veteriner. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Jainudeen MR and Hafez ESE. 2000. Reproduction Failure in Females. Di dalam: Hafez ESE, editor. Reproduction in Farm Animal 7th Edition. South Carolina: Reproduction Health Center.
Joomla. 2008. Mumifikasi Fetus. file:///K:/KOASISDA%20LEMBANG%20KEL%20D/BAHAN%20SAPI%20REPRO/Mumifikasi-fetus.html [20 November 2008].
[Keswan-IB]. 2011. Rekapitulasi Pendataan Populasi Sapi Perah, KPSBU Lembang. Bandung: Keswan-IB KPSBU Lembang.
Kusumawati D. 2009. Feed Suplement Premixes Produk Sanbe Farma. http://centralunggas.blogspot.com/2009_09_01_archive.html [20 November 2011].
Leblanc et al. 2001. Defining and Diagnosing Post Partum Clinical Endometritis and Its Impact on Reproductive Performance in Dairy Cows. Jounal of Dairy Science. American Dairy Science Association Vol. 85 No. 9 2223-2236.
Paraswati L. 2005. Kejadian Retensio sekundinarum pada Sapi Perah di Unit Pelaksanaan Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Kota Batu. Bogor: D3 Kesehatan Ternak Fakultas Kedokteran Hewan.
Plumb DC. 2005. Veterinary Drug Handbook. Iowa: Blackwell Publishing.
Rahadi R. 2009. Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan. http://ilmuternak.wordpress.com/reproduksi-ternak/sejarah-dan-manfaat-inseminasi -buatan/ [9 November 2011].
Soeharsono. 2001. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Subronto dan Tjahajati I. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Turkyilmaz MK. 2005. Reproductive Characteristic of Holstein Cattle Reared in a Private Dairry Cattle Enterprise in AydYn. Jounal of Veterinary Animal Science 29:1049-1052.
Webb DW. 2003. Artificial Insemination in Dairy Cattle. Gainesville: University of Florida.
Subscribe to:
Posts (Atom)